Ketegangan

Ketegangan Iran–AS, Korban Tewas Mencapai Ribuan Orang

Ketegangan Politik Dan Sosial Di Republik Islam Iran Memasuki Fase Serius Setelah Gelombang Protes Besar-Besaran Nasional. Yang bermula pada akhir Desember 2025 terus berlanjut hingga akhir Januari 2026. Ketegangan ini bukan sekadar masalah domestik, tetapi berimbas pada hubungan Iran dengan Amerika Serikat (AS) sekaligus memicu krisis kemanusiaan besar di tengah masyarakat Iran.

Lembaga hak asasi manusia yang berbasis di Amerika Serikat, Human Rights Activists News Agency (HRANA), melaporkan bahwa jumlah korban tewas dalam aksi protes di Iran kini mencapai sekitar 6.126 orang sejak di mulainya demonstrasi besar-besaran tersebut. Jumlah ini termasuk aparat organisasi keamanan pemerintah, anak-anak, serta warga sipil yang tidak terlibat langsung dalam aksi unjuk rasa.

Data terbaru HRANA menunjukkan bahwa sebanyak 5.777 peserta protes tewas, 214 anggota pasukan keamanan serta 86 anak dan 49 warga sipil non-demo juga menjadi korban fatal. Selain itu, lebih dari 41.800 orang di tangkap dan lebih dari 11.000 terluka serius akibat aksi tegas aparat keamanan selama penindakan protes. Ketegangan ini membuat banyak publik makin terharu dan ikut andil untuk membela dan mendukung Iran.

Apa Penyebab Protes?

Protes yang sekarang terjadi di Iran awalnya di picu oleh situasi ekonomi yang memburuk. Termasuk depresiasi tajam nilai tukar rial Iran dan meningkatnya harga kebutuhan pokok — sehingga masyarakat dari berbagai segmen turun ke jalan menuntut perubahan. Aksi ini kemudian menyebar secara cepat ke berbagai kota besar di Iran seperti Teheran, Isfahan, Shiraz, dan Ahvaz.

Kekerasan meningkat ketika aparat keamanan menerapkan taktik keras untuk membubarkan massa. Termasuk penggunaan peluru tajam, granat kejut, dan penyiksaan terhadap demonstran. Pemerintah Iran juga sempat memberlakukan pemutusan akses internet secara luas sejak pertengahan Januari 2026, demi membatasi arus informasi tentang aksi protes.

Perbedaan Angka Resmi dan Laporan HAM

Angka yang dilaporkan oleh HRANA jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan data resmi yang dirilis pemerintah Iran. Pemerintah sebelumnya menyatakan sekitar 3.117 orang tewas dalam protes ini, di mana banyak di antaranya diklaim sebagai “anggota pasukan keamanan atau perusuh bersenjata.” Namun menurut sejumlah organisasi hak asasi, angka resmi ini jauh di bawah kenyataan sebenarnya karena pembatasan akses media dan kekerasan yang meluas.

Perbedaan data semacam ini bukan hal baru dalam konflik besar. Pemerintah cenderung menekan laporan angka kematian resmi. Sementara kelompok independen berupaya menyusun data dari saksi lapangan, keluarga korban, rekaman video tersembunyi, dan laporan medis.

Ketegangan Regional dan Hubungan dengan AS

Situasi dalam negeri Iran ini berlangsung di tengah ketegangan geopolitik dengan Amerika Serikat. AS telah menempatkan kelompok kapal induk dan armada laut di wilayah Timur Tengah sebagai bentuk teguran sekaligus tekanan terhadap Tehran.

Pemerintah Iran, di sisi lain, memperingatkan AS untuk tidak melakukan tindakan militer karena bisa memicu “konsekuensi serius.” Ketegangan ini menandai salah satu masa paling tegang dalam hubungan bilateral kedua negara sejak beberapa dekade terakhir.

Kondisi di Lapangan dan Dampak Kemanusiaan

Kekerasan terhadap demonstran memicu kekhawatiran luas tentang pelanggaran hak asasi manusia. Beberapa laporan dari organisasi internasional menunjukkan bahwa aparat keamanan bahkan telah menangkap demonstran di rumah sakit. Termasuk pasien yang di rawat akibat luka protes. Hal ini di kecam karena melanggar prinsip medis dan menghentikan hak pasien mendapatkan perawatan yang layak.

Kondisi ekonomi yang memburuk turut memperparah situasi. Mata uang Iran, rial, mencapai nilai terendah dalam sejarah. Menyebabkan inflasi tinggi dan kesulitan ekonomi yang semakin membuat warga frustasi dan marah.

Berbagai laporan media internasional dan kelompok hak asasi menyebutkan bahwa protes ini menjadi salah satu periode paling berdarah dalam sejarah Iran modern, dengan korban jiwa yang tinggi dan tindakan penindasan yang berat. Meski demikian, pemerintah tetap mempertahankan narasinya bahwa sebagian besar korban adalah “teroris atau pelaku kekerasan.”