Site icon LiputanMedia24

Dari Hutan Thailand Ke Candi Borobudur

Dari Hutan Thailand Ke Candi Borobudur

Dari Hutan Thailand Ke Candi Borobudur

Dari Hutan Thailand Ke Candi Borobudur merupakan tradisi spiritual yang sarat makna dalam ajaran Buddha Theravada. Pada tahun 2025, sebanyak 36 biksu Thudong memulai perjalanan mereka sejak 6 Februari dari Bangkok. Menempuh jarak sekitar 2.763 kilometer dengan berjalan kaki melewati Malaysia, Singapura, dan Indonesia hingga tiba di Borobudur pada 10 Mei 2025. Dua hari sebelum perayaan Waisak.

Thudong berasal dari bahasa Pali yang berarti “latihan keras” dan merupakan praktik berjalan kaki jauh yang di lakukan para biksu untuk meneladani kehidupan Sang Buddha yang mengembara tanpa tempat tinggal tetap. Mengandalkan kemurahan hati masyarakat untuk makan dan beristirahat. Serta menjalani hidup sederhana dengan hanya membawa dua jubah, sandal, dan obat-obatan. Perjalanan ini bukan sekadar fisik. Melainkan juga latihan batin untuk mengasah kesabaran, ketekunan, pengendalian diri, dan melepaskan keterikatan duniawi.

Selama perjalanan, para biksu di sambut hangat oleh masyarakat lintas agama di berbagai daerah yang mereka lalui. Termasuk di rumah ibadah seperti masjid, gereja, dan vihara. Yang mencerminkan semangat toleransi dan persaudaraan tanpa batas di Indonesia. Sambutan ini memberikan semangat bagi para biksu untuk melanjutkan perjalanan spiritual mereka hingga mencapai tujuan akhir.

Setibanya di Candi Borobudur, para biksu melakukan ritual pradaksina dengan mengelilingi stupa utama sebagai bentuk penghormatan dan refleksi spiritual mendalam. Borobudur sendiri merupakan simbol perjalanan spiritual manusia menuju pencerahan. Sehingga kedatangan para biksu di candi ini menandai puncak perjalanan fisik sekaligus awal perenungan batin yang lebih dalam.

Perjalanan Thudong Dari Hutan Thailand ke Borobudur bukan hanya ritual keagamaan. Tetapi juga pesan universal tentang kedamaian, kesederhanaan, dan toleransi yang menginspirasi umat Buddha dan masyarakat luas di Asia Tenggara dan dunia.

Dari Hutan Thailand Tradisi Ziarah Suci Yang Menembus Batas Waktu Dan Wilayah

Dari Hutan Thailand Tradisi Ziarah Suci Yang Menembus Batas Waktu Dan Wilayah, Perjalanan suci Thudong dari hutan Thailand menuju Candi Borobudur merupakan tradisi ziarah spiritual yang menembus batas waktu dan wilayah, melibatkan perjalanan ribuan kilometer yang di lakukan dengan berjalan kaki oleh para biksu. Pada tahun 2025, sebanyak 36 hingga 38 biksu dari Thailand, Malaysia, Kamboja, Amerika Serikat. Dan negara lain memulai perjalanan mereka sejak 6 Februari dari Bangkok. Menempuh jarak sekitar 2.500 hingga 2.763 kilometer melewati Malaysia, Singapura, dan Indonesia hingga tiba di Borobudur pada 10 Mei. Menjelang perayaan Hari Raya Waisak.

Thudong adalah praktik spiritual tertinggi dalam ajaran Buddha Theravada yang telah berlangsung sejak masa Sang Buddha sekitar abad ke-6 hingga ke-4 SM di India. Para biksu meneladani Sang Buddha yang mengembara tanpa tempat tinggal tetap. Menjalani hidup sederhana dengan membawa bekal minimal-dua jubah, sandal, dan obat-obatan. Serta mengandalkan kemurahan hati masyarakat untuk makanan dan tempat beristirahat. Perjalanan ini bukan sekadar fisik, melainkan juga latihan batin yang mengajarkan kesabaran, ketekunan. Pengendalian diri, dan pelepasan keterikatan duniawi.

Sepanjang perjalanan, para biksu di sambut hangat oleh masyarakat lintas agama di berbagai daerah. Termasuk di rumah ibadah seperti masjid, gereja, dan vihara, yang mencerminkan semangat toleransi dan persaudaraan tanpa batas. Sambutan ini memperkuat makna universal dari perjalanan Thudong sebagai simbol perdamaian dan harmoni sosial. Para biksu juga melakukan ritual di beberapa tempat suci. Seperti Klenteng Tay Kak Sie di Semarang, sebagai bagian dari penguatan spiritual dalam perjalanan mereka.

Setibanya di Candi Borobudur, titik akhir perjalanan, para biksu melakukan pradaksina mengelilingi stupa utama sebagai bentuk penghormatan dan refleksi spiritual mendalam. Perjalanan Thudong yang menembus batas geografis dan waktu ini menjadi simbol abadi dari pencarian pencerahan, penghayatan ajaran Buddha, dan penguatan persaudaraan lintas bangsa dan agama di Asia Tenggara dan dunia.

Pertemuan Dua Budaya

Pertemuan Dua Budaya, yaitu Buddhisme Thailand dan Indonesia, menciptakan harmoni yang kaya dan bermakna dalam konteks spiritual dan kebudayaan Asia Tenggara. Buddhisme Theravada yang dominan di Thailand telah berkembang selama berabad-abad dengan ciri khas ritual, seni, dan arsitektur yang kuat. Seperti yang terlihat pada berbagai wat (candi) di negeri tersebut. Sementara itu, di Indonesia, Buddhisme berkembang dengan pengaruh budaya lokal yang unik. Terutama melalui warisan monumental Candi Borobudur yang menggabungkan ajaran Buddha dengan seni dan tradisi Jawa. Menciptakan bentuk Buddhisme yang khas dan inklusif.

Sejarah panjang interaksi antara kedua budaya ini telah terjalin sejak lama. Salah satunya tercermin dari kunjungan Raja Thailand ke Borobudur sekitar 150 tahun lalu. Yang menandai awal kerja sama dan dialog budaya antara Thailand dan Indonesia dalam bidang keagamaan dan kebudayaan Buddha. Kunjungan-kunjungan para tokoh agama Buddha Thailand ke Borobudur juga mempererat hubungan ini. Sekaligus memperkuat peran Borobudur sebagai pusat ziarah dan simbol spiritual yang menghubungkan umat Buddha dari berbagai negara di Asia Tenggara.

Harmoni antara Buddhisme Thailand dan Indonesia tidak hanya terlihat dalam aspek ritual dan arsitektur. Tetapi juga dalam nilai-nilai universal yang di anut bersama. Seperti cinta kasih, welas asih, dan toleransi antarumat beragama. Di Indonesia, keberagaman agama dan budaya yang tinggi justru menjadi kekuatan dalam menjaga perdamaian dan kerukunan. Di mana Buddhisme beradaptasi dan berintegrasi dengan budaya lokal tanpa kehilangan esensi ajarannya.

Melalui kerja sama yang harmonis, kedua negara saling mendukung dalam pelestarian warisan budaya Buddha dan pengembangan spiritualitas umatnya. Borobudur bukan hanya menjadi warisan budaya Indonesia. Tetapi juga simbol persaudaraan dan titik temu spiritual Buddhis di Asia Tenggara yang menghubungkan tradisi Theravada Thailand dengan kekayaan budaya lokal Indonesia. Dengan demikian, pertemuan dua budaya ini mengilhami semangat perdamaian, toleransi. Dan kebersamaan yang melampaui batas geografis dan budaya.

Pelajaran Dari Jalanan

Perjalanan Dari Jalanan suci Thudong mengajarkan pelajaran berharga. Tentang spiritualitas, kesederhanaan, dan ketabahan yang mendalam. Dalam tradisi ini, para biksu melakukan perjalanan panjang dengan berjalan kaki. Membawa sedikit bekal dan mengandalkan kemurahan hati masyarakat yang mereka temui. Sehingga hidup mereka benar-benar sederhana dan bebas dari kemelekatan duniawi. Kesederhanaan ini bukan hanya soal materi. Tetapi juga tentang mengendalikan diri dari keinginan, kemarahan, dan kebodohan, tiga dosa utama yang di hindari dalam Buddhisme.

Spiritualitas dalam perjalanan Thudong terwujud melalui praktik meditasi berjalan dan keheningan yang terus di jaga sepanjang perjalanan. Memungkinkan para biksu untuk memperdalam kesadaran dan kedamaian batin. Mereka menjalani 13 praktik pertapaan yang di ajarkan Sang Buddha, termasuk berpuasa, hidup minimalis, dan meditasi intensif. Yang semuanya bertujuan melatih disiplin dan memperkuat koneksi spiritual dengan alam dan ajaran Buddha.

Ketabahan menjadi kunci utama dalam perjalanan ini karena para biksu harus menempuh ribuan kilometer dengan kondisi fisik yang menantang, menghadapi panas, hujan, dan keterbatasan logistik tanpa mengeluh. Perjalanan ini mengajarkan mereka untuk menerima segala kondisi dengan lapang dada dan tetap fokus pada tujuan spiritual, yaitu mencapai kedamaian batin dan pencerahan.

Selain latihan pribadi, perjalanan Thudong juga menjadi simbol universal tentang toleransi dan persaudaraan, karena para biksu di sambut hangat oleh masyarakat lintas agama di berbagai daerah yang mereka lalui, menunjukkan bahwa kesederhanaan dan ketabahan dapat menyatukan manusia tanpa memandang perbedaan.

Dengan demikian, pelajaran dari jalanan Thudong mengajak setiap orang untuk menghayati hidup dengan kesederhanaan, memperkuat ketabahan menghadapi tantangan, dan terus menumbuhkan spiritualitas yang mendalam sebagai landasan kedamaian dan kebijaksanaan dalam kehidupan sehari-hari. Inilah beberapa penjelasan yang disampaikan di atas mengenai Dari Hutan.

Exit mobile version